Artikel
MENGAPA AIR LAUT TIDAK TAWAR?
Oleh : DIKLIT
Laut merupakan suatu kumpulan air asin dalam jumlah banyak yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau. Kehidupan di laut merupakan suatu sistem yang sangat kompleks dan saling bergantungan antara satu dengan yang lainnya, baik itu faktor biotik dan juga abiotik. Salah satu faktor abiotik yang sangat penting bagi kehidupan di laut adalah salinitas. Salinitas merupakan jumlah dalam gram zat padat yang terlarut dalam satu kilo gram air laut jika semua unsur brom dan yodium digantikan dengan klor dalam jumlah yang setara.
Salinitas umum digunakan untuk menunjukkan tingkat keasinan dari air laut. Rasa asin dari air laut berasal dari garam dan mineral yang terkandung di dalamnya. Dari mana garam dan mineral yang ada di laut berasal? Mengapa air laut tidak terasa tawar seperti sungai-sungai yang mengalir ke laut? Laut sendiri diperkirakan sudah terbentuk sejak 500 juta tahun yang lalu. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa air di laut berasal dari suatur proses yaitu degassing. Pada saat itu, uap air dari dalam bumi terlepas ke atmosfer. Uap air yang tertahan di atmosfer kemudian mulai mendingin dan jatuh ke bumi dalam bentuk air, seiring dengan suhu permukaan bumi yang mendingin. Hujan yang terjadi selama ratusan tahun menghasilkan laut yang kita kenal sekarang.
Bagaimanapun juga, air laut purba diperkirakan hanya sedikit terasa asin. Proses pengasinan air laut terus terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Garam dan mineral yang terkikis dari batuan di daratan, terbawa oleh air sungai menuju dan pada akhirnya terakumulasi di laut. Mineral-mineral yang ada di dalam kerak bumi juga merupakan sumber dari garam dan mineral yang ada di laut sekarang. Garam dan mineral yang ada di laut akan tetap berada di laut walaupun ketika terjadinya evaporasi air laut yang pada akhirnya menghasilkan hujan. Itu mengapa air laut tetap terasa asin, walaupun seluruh sungai dari daratan terus menerus mengisi laut dengan air tawarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Dharma. 1984. Pengukuran Salinitas Air Laut Dan Peranannya Dalam Ilmu Kelautan. Oseana, Vol 9 (1): 3-10.
Dharma A. 1984. Pengukuran Salinitas Air Laut Dan Perannya Dalam Ilmu Kelautan. Oseana, Vol 9 (1) : 3-10.
Godam. 2009. Pengertian Pertanian, Bentuk & Hasil Pertanian Petani - Ilmu Geografi (Online). http://www.organisasi.org/1970/01/definisi-pengertianpertanianbentuk-hasil-pertanian-petani-ilmu-geografi.html. Diakses tanggal 26 Mei 2021.
Prastusi OP. 2017. Pengaruh Komposisi Air Laut dan Pasir Laut Sebagai Sumber Energi Listrik. Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan. Vol 1 (1): 35-41.
Setiawati M dan Suprayudi M. 2003. Pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan nila merah yang dipelihara pada media bersalinitas. [Skripsi]. jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB: Bogor.
Swenson H. 1983. Why Is The Ocean Salty? U.S. Department of the Interior/Geological Survey
Teknologi Turtle Excluder Device :
Mengubah Nasib Penyu dari Jaring Kematian
Penyu merupakan hewan laut yang keberadaanya terancam kepunahan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu abrasi pantai, perubahan iklim (climate change), dan tertangkapnya penyu secara tidak sengaja oleh jaring nelayan, khususnya jaring pukat harimau (trawler) sebagai tangkapan sampingan (Kurniawan et al, 2015). Hal ini merupakan salah satu ancaman terbesar yang dihadapi penyu. Populasi penyu akan semakin menurun selama para nelayan menggunakan jaring. Maka untuk mencegah kematian penyu karena jaring, dibuat teknologi TED atau kepanjangannya Turtle Excluder Device. TED merupakan salah satu alat khusus yang berfungsi dalam membebaskan penyu dan biota lain yang terperangkap di jaring nelayan.
Gambar 1. Salah satu dari 8 spesies penyu, Chelonia mydas (Lindgren, 2013)
TED pertama kali diciptakan pada akhir 1960-an, oleh seorang nelayan dari Georgia, Amerika Serikat untuk mengurangi tangkapan sampingan (bycatch). TED dikembangkan lagi oleh organisasi kelautan dan cuaca Amerika Serikat, NOAA (National Oceanic & Atmospheric Administration) pada tahun 1987 Amerika Serikat mewajibkan semua kapal trawler udang untuk mengadopsi teknologi ini di jaring yang mereka gunakan.
Bagaimana TED menyelamatkan penyu yang terperangkap di jaring? Seperti diperlihatkan pada Gambar 2, TED dalam bentuk kisi-kisi metal berbentuk silindris berfungsi sebagai penyaring, dimana hewan-hewan berukuran besar akan tertahan di kisi tersebut sementara udang-udang dan ikan kecil (target catch) melewati kisi dan terperangkap di dasar jaring. Pada bagian bawah atau atas kisi terdapat lubang (escape hatch) yang memungkinkan tangkapan sampingan berukuran lebih besar dari 10 cm untuk kabur dari jaring.
Namun, TED tidak luput dari kekurangan, berdasarkan para nelayan, TED dianggap merugikan karena mengurangi hasil tangkapan mereka akan tetapi hasil studi menunjukkan pengurangan hasil tangkapan hanya sebesar 5%-13%.
Meskipun demikian, TED sangat efektif dalam mengurangi kematian penyu serta murah, sederhana dan mudah untuk dipasang (Shiffman D, 2011).
Selain TED, apakah ada teknologi atau inovasi yang bisa digunakan untuk mengurangi kematian para reptil laut kita? Nelayan bersama dengan WWF (World Wildlife Fund) di Pontianak, Kalimantan Barat menggunakan teknologi lampu Light Emitting Diode (LED) yang berfungsi untuk mencegah penyu yang mendekati jaring (Wahju et al, 2015). Data yang diperoleh WWF pada tahun 2017 membuktikan bahwa memasang lampu LED pada alat penangkap ikan dapat menurunkan hasil tangkapan sampingan sebesar 61,4% (Rahmadi R, 2017). Bahkan, selain mencegah penyu tertangkap di jaring, teknologi ini juga memiliki dampak positif terhadap nelayan pada contoh kasus di Pulau Paloh 2017, dimana pemakaian LED hijau menaikkan hasil tangkapan nelayan sebesar 11.6% dari sebelumnya (Paino, 2019).
Teknologi seperti TED dan LED berpotensial dalam mencegah kematian penyu karena terjerat jaring-jaring. Oleh karena itu, dengan semakin berkurangnya populasi penyu, semoga teknologi penyelamat penyu ini dapat digunakan secara meluas, dan bahkan diwajibkan untuk digunakan di setiap kapal nelayan yang menggunakan jaring pukat harimau sehingga salah satu satwa unik ini dapat terus berenang di lautan kita.
REFERENSI
Lindgren P. 2013. Green sea turtle grazing on seagrass
https://en.wikipedia.org/wiki/Green_sea_turtle#/media/File:Green_Sea_Tu rtle_grazing_seagrass.jpg
Kurniarum, M., Prihanta, W., & Wahyuni, S. 2015. Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Terhadap Konservasi Penyu dan Ekowisata di Desa Hadiwarno
Kabupaten Pcaitan Sebagai Sumber Belajar Biologi. Jurnal Pendidikan Biologi ndonesia, 1 (2):124-137.
Paino. 2019. Dengan lampu hijau ini, angka tangkapan penyu menurun.
https://darilaut.id/berita/dengan-lampu-hijau-ini-angka-tangkapan- penyumenurun?amp=1. Diakses pada tanggal 18/05/2021
Rahmadi, R. 2017. Dengan Lampu Hijau, Penyu yang Terjerat Jaring Nelayan akan Berkurang. diakses dari https://www.mongabay.co.id/2016/12/25/denganlampu-hijau-penyu-yang-terjerat-jaring-nelayan-akan-berkurang/ pada tanggal 27/05/2021
Shiffman D. 2011. Turtle excluder devices, analysis of resistance to a successful conservation policy. https://www.southernfriedscience.com/turtleexcluder-devices- analysis-of-resistance-to-a-successful-conservationpolicy/. Diakses pada tanggal 20/05/2021
Wahju, I.R., Riyanto, M.,Yusfiandayani, R., Prasetyo, G.D. 2019. Response Of Turtle Against Light For Tangkapan sampingan Mitigation In Laboratory Scale. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 10 (2):161-172.
Mangrove: Hutan dengan Beragam Manfaat
Oleh :
Aqil Rahmadana, Dimas Firdiyanto, Miftahul Jannah, Nabila Arkania
Mangrove adalah salah satu keanekaragaman hayati di Indonesia dengan banyak manfaat dari sisi ekologis dan ekonomis. Mangrove hidup di wilayah pesisir, tepatnya di daerah pasang surut air laut. Tumbuhan mangrove mampu bertahan pada keadaan ekstrem, seperti di tanah tergenang dan lingkungan dengan kadar garam yang tinggi (Noor dkk, 2006). Sistem perakaran mangrove yang kompleks memberikan manfaat bagi mangrove, sebab akar mangrove mampu memerangkap sisa-sisa bahan organik dan endapan yang terbawa dari daratan ke laut (Arief, 2003). Proses tersebut membantu terjaganya kebersihan air laut, sehingga ekosistem laut dapat terpelihara. Tak hanya itu, ekosistem mangrove juga berperan menyediakan habitat bagi beberapa spesies makhluk hidup.
(Sumber: kehati.or.id)
Ekosistem mangrove berperan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Bagianbagian dari pohon mangrove banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan. Jenis Acanthus ebracteatus misalnya, yang dimanfaatkan sebagai pembersih darah serta obat luka bakar. Daun Acanthus dapat mengobati rematik, sementara perasan buah atau akarnya dapat mengobati luka akibat bisa ular atau panah beracun. Ada pula jenis mangrove Nypa fruticans yang batangnya dapat diolah menjadi sirup. Selain itu, jenis Ceriops memiliki kayu terkuat dibandingkan jenisjenis mangrove lainnya, sehingga digunakan sebagai bahan bangunan serta bantalan kereta api (Khazali dkk, 1999).
(Sumber: bpol.litbang.kkp.go.id)
Di samping banyaknya manfaat mangrove baik bagi manusia maupun lingkungan, ada pula hal yang mengancam keberadaan mangrove. Misalnya saja, kondisi di Segara Anakan Cilacap mengalami penurunan produksi perikanan sebanyak 70% akibat kawasan hutan mangrove rusak akibat sedimentasi dan penebangan (Cruz AA, 1979). Pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan, tambak, pemukiman, kawasan industri, dan wisata juga menjadi penyebab berkurangnya sumber daya mangrove yang ada. Tak hanya itu, sumber daya mangrove rentan mengalami kerusakan akibat aktivitas pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kurang baik, menyebabkan banyak limbah hasil industri dan rumah tangga yang mencemari siklus air (Purnobasuki, 2011).
(Sumber: mongabay.co.id)
Untuk mengatasi berbagai ancaman terhadap mangrove, terdapat upaya yang dapat dilakukan. Kegiatan inventarisasi, pemantauan, rehabilitasi, dan penelitian misalnya (Purnobasuki, 2011). Perlu diketahui kondisi ekosistem mangrove sebelum dilakukan pemantauan dan rehabilitasi berupa penanaman kembali hutan mangrove. Salah satu metode rehabilitasi yang dapat diterapkan adalah silvofishery. Silvofishery merupakan sistem pertambakan yang menggabungkan usaha perikanan dan penanaman mangrove (Shilman, 2012). Dengan sistem silvofishery, masyarakat dapat melakukan kegiatan usaha tanpa merusak ekosistem mangrove. Ada beberapa model silvofishery, yaitu model mangrove dikelilingi tambak dan mangrove terpisah dengan tambak.
Pembangunan model silvofishery tentunya harus disesuaikan dengan perbandingan rasio antara mangrove dengan perairan. Untuk mewujudkan upaya tersebut, penting untuk mengadakan sosialisasi dan kerjasama yang baik dengan masyarakat setempat. Setelahnya, harus dilakukan kegiatan penelitian lanjutan untuk menjadi bekal penentu nasib mangrove di masa mendatang.
REFERENSI
Arief A. 2003. Hutan mangrove fungsi dan manfaatnya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Cruz AA de la. 1979, The function of Mangroves. BIOTROP. Special Publ 10: 125-138.
Fawzi NI. 2016. Mangrove: Karakteristik, Pemetaan, dan Pengelolaannya. Yogyakarta. Penerbit Sibuku Media.
Kehati. 2020. Hari Mangrove Internasional: Momentum Moratorium.
https://www.kehati.or.id/harimangroveinternasional/. Diakses tanggal 20 Juni 2021.
Khazali M, Noor Y, Suryadiputra, N. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia, Wetlands International Indonesia Programme. Jakarta.
Noor YR, Khazali M, Suryadiputra INN. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Wetland International Indonesia Programme. Bogor.
Pristianto R. 2018. http://www.bpol.litbang.kkp.go.id/mangrove/2018/07/21/9-ciri-ciri-hutanbakau-dan-penjelasannya/. Dikses tanggal 20 Juni 2021.
Purnobasuki H. 2011. Ancaman Terhadap Hutan Mangrove di Indonesia dan Langkah Strategis Pencegahannya. Universitas Airlangga.
Riski P. 2015. Bersih Sampah Plastik di Hutan Mangrove Pamurbaya Tandai Peringatan Hari Bumi. https://www.mongabay.co.id/2015/04/22/bersih-sampah-plastik-di-hutanmangrove-pamurbaya-tandai-peringatan-hari-bumi/. Diakses tanggal 20 Juni 2021.
Shilman MI. 2012. Kajian Penerapan Silvofishery untuk Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Desa Dabong Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat. Diakses dari repository.ipb.ac.id.






Komentar
Posting Komentar